Tajam.co.id, Jakarta – Presiden Prabowo Subianto mengingatkan adanya ancaman baru terhadap stabilitas negara melalui penyalahgunaan teknologi digital, termasuk penyebaran disinformasi dan manipulasi informasi berbasis kecerdasan buatan.
Hal tersebut disampaikan Presiden Prabowo Subianto dalam Taklimat Presiden pada Rapat Kerja Pemerintah bersama anggota Kabinet Merah Putih bersama kepala badan, pejabat eselon I dan BUMN di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (8/4/2026).
Presiden menilai, perkembangan teknologi informasi memungkinkan munculnya fenomena manipulasi opini publik melalui media sosial, bahkan oleh kelompok kecil yang dapat menciptakan persepsi seolah-olah menjadi suara mayoritas. “Dengan teknologi digital dan kecerdasan buatan, satu orang bisa memiliki banyak akun dan membentuk opini yang tidak mencerminkan kondisi sebenarnya,” ujarnya.
Ia menjelaskan, kondisi tersebut dikenal sebagai echo chamber, yang dapat memicu kegaduhan dan memengaruhi stabilitas sosial jika tidak disikapi dengan bijak.
Presiden juga menyoroti potensi penyalahgunaan teknologi kecerdasan buatan yang mampu memanipulasi suara maupun visual seseorang, sehingga menimbulkan informasi yang menyesatkan.
Menurutnya, ancaman tersebut menjadi tantangan baru dalam menjaga kedaulatan negara, yang kini tidak hanya berbentuk fisik, tetapi juga melalui ruang digital. “Dulu ancaman datang dalam bentuk militer, kini bisa melalui media sosial dan informasi yang tidak benar,” kata Kepala Negara.
Meski demikian, Presiden mengajak seluruh elemen bangsa untuk tetap tenang dan bijak dalam menyikapi berbagai informasi yang beredar.
Ia menekankan pentingnya berpegang pada prinsip-prinsip dasar bernegara, termasuk Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, serta supremasi hukum. “Tidak ada negara tanpa hukum dan konstitusi. Semua harus berjalan sesuai kesepakatan bersama,” ujarnya.
Presiden Prabowo juga mengingatkan pentingnya menjaga persatuan nasional yang telah dibangun melalui konsensus besar bangsa, seperti Sumpah Pemuda 1928 dan perumusan konstitusi pada 1945.
Menurutnya, sejarah menunjukkan bahwa kekuatan bangsa terletak pada persatuan, bukan perpecahan.
Ia pun mengajak seluruh pihak untuk mempercayai sistem demokrasi yang telah berjalan, serta menyelesaikan perbedaan melalui mekanisme yang sah dan damai. “Percayalah pada kekuatan bangsa sendiri dan pada sistem yang telah dibangun para pendiri bangsa,” ujar Kepala Negara.
Melalui pernyataan tersebut, Presiden menegaskan bahwa tantangan di era digital harus dihadapi dengan kewaspadaan, persatuan, serta komitmen menjaga nilai-nilai dasar bernegara. (red)























