Jakarta – Prospek penguatan nilai tukar rupiah dinilai semakin terbuka seiring mulai pulihnya kepercayaan investor terhadap pasar keuangan domestik. Namun, proses stabilisasi tersebut masih membutuhkan dukungan arus modal asing (capital inflow) yang lebih besar, terutama ke pasar obligasi pemerintah, agar penguatan rupiah dapat berlangsung secara berkelanjutan.
Pandangan tersebut disampaikan Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, yang menilai pelemahan rupiah saat ini lebih mencerminkan proses penyesuaian pasar keuangan daripada memburuknya fundamental ekonomi nasional.
Menurut Fakhrul, berbagai langkah kebijakan moneter dan pengelolaan likuiditas yang ditempuh Bank Indonesia mulai menunjukkan hasil positif, ditandai dengan kembalinya investor asing ke pasar surat utang pemerintah.
“Menurut saya, kita mulai melihat sinyal yang positif. Investor asing telah kembali masuk ke pasar obligasi pemerintah dalam beberapa waktu terakhir. Hal ini menunjukkan bahwa pasar mulai mengapresiasi perubahan arah kebijakan yang dilakukan otoritas, terutama dalam pengelolaan likuiditas serta upaya mengembalikan mekanisme pembentukan harga yang lebih sehat di pasar obligasi,” ujar Fakhrul, dalam keterangan tertulis yang diterima, Senin (6/7/2026).
Ia menjelaskan, penguatan nilai tukar tidak dapat terjadi secara instan karena sangat bergantung pada keberlanjutan aliran modal portofolio asing. Dalam kondisi saat ini, pasar obligasi menjadi faktor utama yang menentukan arah pergerakan rupiah. “Rupiah pada dasarnya sedang menunggu capital inflow yang lebih besar. Untuk menghasilkan arus masuk modal yang berkelanjutan, pasar obligasi Indonesia perlu menawarkan tingkat imbal hasil yang cukup menarik dibandingkan risiko global yang masih tinggi. Investor asing memang mulai kembali membeli obligasi Indonesia, namun menurut saya proses tersebut masih berada pada tahap awal,” jelasnya.
Fakhrul menilai kebijakan Bank Indonesia dalam memperketat pengelolaan likuiditas telah menjadi fondasi penting bagi proses stabilisasi pasar. Namun, keberhasilan kebijakan tersebut juga membutuhkan dukungan koordinasi yang erat dengan pemerintah, khususnya dalam pengelolaan fiskal dan penerbitan surat utang negara.
Menurutnya, pasar obligasi merupakan jangkar utama dalam menjaga stabilitas nilai tukar karena menjadi pintu masuk utama investasi portofolio asing. “Pasar obligasi adalah jangkar utama stabilitas nilai tukar. Sebelum rupiah dapat menguat secara berkelanjutan, pasar obligasi terlebih dahulu perlu menyelesaikan proses repricing sehingga mampu menarik lebih banyak investor jangka panjang,” katanya.
Ia menekankan pentingnya konsistensi kebijakan antara Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan agar mekanisme pembentukan imbal hasil obligasi dapat berjalan sesuai kondisi pasar. Konsistensi tersebut dinilai akan meningkatkan daya saing Indonesia di mata investor dibandingkan negara-negara berkembang lainnya. “Konsistensi merupakan faktor yang sangat penting. Ketika Bank Indonesia telah memperketat likuiditas dan pasar mulai melakukan penyesuaian, maka proses tersebut perlu dijaga hingga selesai. Apabila terjadi inkonsistensi kebijakan yang kembali menahan kenaikan imbal hasil sebelum waktunya, maka proses masuknya investor asing dapat kembali tertunda dan hasil stabilisasi rupiah menjadi tidak optimal,” ujarnya.
Lebih lanjut, Fakhrul menilai Indonesia kini telah memasuki fase transisi dari tekanan menuju stabilisasi. Meski demikian, penguatan rupiah masih akan dipengaruhi dinamika ekonomi global, terutama arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (Federal Reserve). “Yang dibutuhkan saat ini bukan intervensi tambahan, melainkan konsistensi kebijakan. Ketika pasar melihat bahwa proses normalisasi benar-benar dijalankan secara konsisten oleh Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan, kepercayaan investor akan meningkat, capital inflow akan semakin besar, dan rupiah akan memperoleh fondasi yang jauh lebih kuat,” katanya.
Ia menambahkan, tantangan berikutnya bukan lagi sekadar meredam tekanan terhadap rupiah, melainkan membangun keyakinan investor bahwa normalisasi pasar obligasi akan terus dijalankan secara konsisten.
Dengan meningkatnya arus modal asing ke pasar obligasi pemerintah, stabilitas nilai tukar rupiah diyakini akan semakin kuat sekaligus memperkokoh daya tarik Indonesia sebagai salah satu tujuan utama investasi portofolio di kawasan. (red)























