Ragam Gorontalo Catat Inflasi 2,52% per Desember 2025

Gorontalo Catat Inflasi 2,52% per Desember 2025

Tajam.co.id, Kota Gorontalo  – Di penghujung tahun 2025, Provinsi Gorontalo mencatatkan laju inflasi year-on-year atau tahunan sebesar 2,52 persen.

Angka inflasi tersebut merupakan akumulasi dari kontribusi dua daerah utama, yakni Kota Gorontalo sebesar 2,50 persen dan Kabupaten Gorontalo sebesar 2,54 persen.

Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Gorontalo, Dwi Alwi Astuti, menyatakan  inflasi itu dipicu oleh kenaikan indeks pada tujuh dari sebelas kelompok pengeluaran masyarakat.

Kelompok pengeluaran yang mengalami kenaikan indeks tertinggi adalah perawatan pribadi dan jasa lainnya dengan inflasi mencapai 8,98 persen.

Kelompok itu diikuti oleh makanan, minuman, dan tembakau sebesar 4,38 persen; penyediaan makanan dan minuman atau restoran sebesar 2,52 persen; pendidikan sebesar 2,03 persen; transportasi sebesar 1,56 persen; perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,61 persen; serta pakaian dan alas kaki sebesar 0,42 persen.

Di sisi lain, empat kelompok pengeluaran justru mengalami deflasi atau penurunan harga. Kelompok tersebut adalah perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga yang deflasi 2,97 persen; informasi, komunikasi, dan jasa keuangan turun 1,58 persen; rekreasi, olahraga, dan budaya turun 0,40 persen; serta kesehatan yang turun tipis 0,12 persen.

Secara bulanan, pada Desember 2025 terjadi deflasi month-to-month sebesar 0,88 persen dibanding November. Sementara secara akumulatif dari Januari hingga Desember 2025 atau year-to-date, inflasi berada di level 2,52 persen.

Dwi Alwi Astuti juga merinci komoditas-komoditas spesifik yang memberi pengaruh besar. Sumbangan inflasi year-on-year terbesar datang dari emas perhiasan, bawang merah, beras, ikan cakalang, ikan layang, sigaret kretek mesin, daging ayam ras, nasi dengan lauk, kopi bubuk, dan telur ayam ras.

Sementara itu, andil deflasi tahunan disumbangkan oleh tomat, sabun deterjen bubuk, telepon seluler, cumi-cumi, terong, kangkung, ikan tuna, bawang putih, minyak goreng, dan kemiri.

Analisis lebih mendalam menunjukkan kontribusi setiap kelompok pengeluaran terhadap angka inflasi 2,52 persen tersebut.

Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar, yaitu 1,56 persen. Disusul oleh kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,67 persen; transportasi serta penyediaan makanan dan minuman masing-masing 0,17 persen; perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,09 persen; pendidikan 0,07 persen; pakaian dan alas kaki 0,03 persen; serta kesehatan yang hampir tidak berpengaruh. (red)