Ragam Di Era Algoritma AI, Ketahanan Mental Remaja Menjadi Kebutuhan Wajib

Di Era Algoritma AI, Ketahanan Mental Remaja Menjadi Kebutuhan Wajib

Jakarta – Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN, Wihaji, menegaskan bahwa kematangan mental atau resiliensi kini menjadi bekal wajib bagi remaja Indonesia. Hal ini diperlukan agar generasi muda mampu menghadapi perubahan cepat di era peradaban baru (New Civilization) yang dipicu oleh derasnya arus informasi dan perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

Pesan tersebut disampaikan Wihaji saat menghadiri Adiwarna Nusantara ADUJAKNAS sekaligus Puncak Perayaan Hari Lahir GenRe Indonesia ke-16 di Jakarta, Senin (15/6/2026). Acara ini diikuti oleh ribuan peserta secara luring maupun daring dari berbagai wilayah di Indonesia.

Menurut Wihaji, perkembangan teknologi AI saat ini telah memengaruhi cara remaja berpikir, mengambil keputusan, hingga membentuk sudut pandang. Di tengah situasi tersebut, batasan antara informasi yang benar dan salah, serta antara tuntunan dan tontonan menjadi semakin tipis. “Hari ini kita menghadapi peradaban baru. AI sangat memengaruhi algoritma kita, semua bisa ditanya di situ, tapi siapa yang bisa mengonfirmasi kebenarannya?” ujarnya.

Wihaji memperingatkan bahwa perubahan yang berjalan masif ini berpotensi memicu kegagapan masa depan (future shock) jika tidak diantisipasi dengan kesiapan mental yang kuat. Terlebih lagi, data menunjukkan saat ini sekitar 34 persen remaja di Indonesia mengalami permasalahan terkait kesehatan mental.

Tantangan ini menjadi krusial mengingat Indonesia memiliki modal bonus demografi yang besar, dengan hampir 46 juta keluarga yang memiliki anggota berusia 10–24 tahun (Generasi Z dan Generasi Alpha). Kelompok usia inilah yang diproyeksikan akan mengisi posisi kepemimpinan strategis pada periode 2043 hingga 2046, tepat saat momentum Indonesia Emas 2045.

Oleh karena itu, Wihaji mengapresiasi keberadaan Forum GenRe Indonesia sebagai ruang pendampingan remaja. Ia menekankan bahwa pendekatan kepada generasi muda tidak boleh hanya mengandalkan kreativitas dan inovasi, tetapi juga harus membangun daya tahan (resiliensi) agar mereka mampu bangkit dari tekanan. “Anak-anak usia 10 sampai 24 tahun ini tidak hanya butuh pegangan, tapi juga butuh dituntun dan dikasih jalan keluar,” tegasnya.

Di akhir arahannya, Wihaji mengajak seluruh elemen mulai dari keluarga, sekolah, masyarakat, hingga pemerintah untuk menjadikan penguatan resiliensi mental sebagai gerakan bersama. Penguasaan teknologi harus diimbangi dengan keterampilan mengelola emosi dan berpikir kritis agar remaja tidak sekadar menjadi penonton, melainkan aktor utama yang membawa Indonesia ke masa depan yang lebih baik. (Red)