Jakarta – Peringatan Hari Lahir Pancasila 1 Juni menjadi momentum untuk memperkuat komitmen kebangsaan, mempererat persaudaraan dalam keberagaman, serta menghidupkan nilai-nilai luhur budaya Nusantara dalam kehidupan sehari-hari.
Demikian disampaikan Ketua DPD Paguyuban Sumarah DKI Jakarta, Ir. Titiek Sulistyowati, MTI, dalam sambutannya pada kegiatan “Memperingati Hari Lahir Pancasila Bersama Paguyuban Sumarah” di Sasana Adirasa Pangeran Samber Nyawa, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Sabtu (7/6/2026).
“Perbedaan dan keberagaman bukanlah sesuatu yang harus dipertentangkan, melainkan kekuatan yang harus dipelihara. Dengan Pancasila, kita agungkan budaya luhur Nusantara,” ujar Titiek dalam siaran persnya.
Acara yang diselenggarakan Paguyuban Sumarah dan didukung oleh Direktorat Bina Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Masyarakat Adat (BKMA) Kementerian Kebudayaan ini mengusung tema “Dengan Pancasila, Agungkan Budaya Luhur Nusantara”. Kegiatan tersebut mengajak seluruh peserta dan masyarakat Indonesia untuk membuat budaya luhur Nusantara semakin agung melalui peri kehidupan sehari-hari.
Dalam kesempatan tersebut, Pamong Budaya Direktorat BKMA Kementerian Kebudayaan,Aji Wijayanto, mengapresiasi peran organisasi penghayat kepercayaan dalam melestarikan nilai-nilai luhur budaya bangsa yang sejalan dengan nilai-nilai Pancasila.
“Ajaran dan praktik yang berkembang dalam organisasi penghayat kepercayaan mengandung nilai-nilai luhur yang berkontribusi pada penguatan karakter kebangsaan,” kata Aji.
Aji juga menyoroti tradisi pembacaan Pancasila yang senantiasa dilakukan dalam berbagai kegiatan organisasi penghayat kepercayaan sebagai bentuk penghormatan sekaligus penghayatan terhadap dasar negara.
Akademisi Kunto Adi Wibowo melalui paparannya, mengajak masyarakat melihat Pancasila tidak hanya sebagai dasar negara, tetapi juga sebagai manifestasi nilai-nilai spiritual dan budaya yang hidup dalam perjalanan bangsa Indonesia.
Kunto Adi Wibowo menguraikan refleksi mengenai implementasi nilai-nilai Pancasila pada berbagai periode sejarah bangsa, sekaligus mengajak peserta memahami pentingnya menghidupkan kembali nilai-nilai luhur tersebut dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara pada masa kini.
Presidium Majelis Luhur Kepercayaan Indonesia (MLKI) Pusat, Endang Retno Lastani, menyampaikan pemahaman mengenai keberadaan organisasi penghayat kepercayaan di Indonesia serta perkembangan pengakuan dan perlindungan hak-hak konstitusional penghayat kepercayaan.
Dalam paparannya, Endang Retno Lastani menegaskan bahwa generasi muda dan masyarakat penghayat tidak perlu ragu untuk mempelajari, melestarikan, dan mengembangkan ilmu-ilmu kesucian warisan leluhur Nusantara. Ia juga menjelaskan berbagai kemajuan yang telah dicapai dalam pemenuhan hak-hak warga penghayat kepercayaan sebagai wujud kehadiran negara dalam melayani seluruh warga negara secara setara.
Praktisi Paguyuban Sumarah, Wisnu Sarjono memperkenalkan sejarah lahirnya Paguyuban Sumarah, perjalanan spiritual Raden Ngabei Soekinohartono (Pak Kino), serta pokok-pokok tuntunan Sumarah yang berkembang hingga saat ini.
Dalam pemaparannya, Wisnu Sarjono menjelaskan bahwa Sumarah menekankan pentingnya pembentukan manusia yang beriman, beradab, dan mampu memberikan manfaat bagi sesama. Nilai-nilai tersebut diwujudkan melalui laku penghayatan yang membangun ketentraman lahir dan batin, serta memperkuat kepedulian terhadap kehidupan bermasyarakat dan kebangsaan.
Paguyuban Sumarah merupakan salah satu paguyuban penghayat kepercayaan yang menekankan penghayatan spiritual melalui laku sujud sumarah kepada Tuhan YME, dirintis oleh Raden Ngabei Soekinohartono (Pak Kino), yang sejak masa perjuangan kemerdekaan mengembangkan tuntunan spiritual yang berakar pada nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, dan pengabdian kepada bangsa.
Bagi warga Sumarah, penghayatan dan pengamalan nilai-nilai Pancasila merupakan salah satu wujud tanggung jawab dalam mengisi dan menjaga kemerdekaan Indonesia. Pancasila bukan sekadar dasar negara, melainkan hakikat Nusantara Indonesia itu sendiri. Pancasila dipandang sebagai wahana Nusantara untuk mewujudkan cita-cita luhurnya, yakni terbentuknya manusia Indonesia yang utuh, persatuan manusia Indonesia seutuhnya, serta kehidupan bersama yang senantiasa berada dalam bimbingan dan berkah Tuhan Yang Maha Esa sehingga mampu melahirkan pranata kehidupan yang bermuara pada terwujudnya keadilan dan kesejahteraan bersama bagi seluruh makhluk.
Melalui kegiatan ini, Paguyuban Sumarah berharap semakin banyak masyarakat yang mengenal, menghayati, dan mengamalkan nilai-nilai luhur Pancasila sebagai jalan untuk memperkuat persatuan, membangun kehidupan yang rukun, serta mengagungkan budaya luhur Nusantara di tengah keberagaman bangsa Indonesia. (red)























