Tajam.co.id – Kabar duka menyelimuti dunia sepak bola. Bintang Liverpool, Diogo Jota, meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan mobil di Spanyol. Insiden tragis ini terjadi saat ia dalam perjalanan untuk naik feri di Santander menuju Inggris.

Pemain berusia 28 tahun itu menghembuskan nafas terakhirnya pada Rabu (3/7) pukul 00.30 waktu setempat. Kecelakaan terjadi di kilometer 65 A-52, dekat wilayah Zamora, Sanabria, Spanyol.

Jota diketahui baru saja menjalani operasi paru-paru dan disarankan dokter untuk tidak melakukan perjalanan udara. Apa sebenarnya penyakit yang mengharuskan Jota menghindari pesawat terbang?

Artikel ini akan membahas lebih lanjut tentang pneumotoraks, penyakit yang diduga menjadi alasan larangan terbang bagi Diogo Jota. Simak ulasan selengkapnya dilansir dari berbagai sumber:

Apa Itu Pneumotoraks?

Pneumotoraks adalah kondisi medis yang terjadi ketika udara masuk ke dalam ruang antara paru-paru dan dinding dada, yang disebut rongga pleura. Masuknya udara ini menyebabkan tekanan pada paru-paru, membuatnya mengempis sebagian atau seluruhnya.

Kondisi ini sering disebut sebagai paru-paru kolaps. Pneumotoraks dapat menimbulkan berbagai gejala yang mengganggu pernapasan. Gejala pneumotoraks bervariasi tergantung pada tingkat keparahan dan jumlah udara yang terperangkap. Beberapa gejala umum meliputi nyeri dada yang tajam, biasanya pada satu sisi dada, sesak napas, batuk, dan kelelahan.

Dalam kasus yang lebih serius, pneumotoraks dapat menyebabkan gagal napas dan memerlukan penanganan medis segera. Apa saja penyebab yang bisa memicu terjadinya pneumotoraks?

Pneumotoraks dapat disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari cedera fisik hingga kondisi medis yang mendasari. Cedera dada akibat kecelakaan, tusukan, atau bahkan tekanan kuat saat berolahraga dapat merusak paru-paru dan menyebabkan kebocoran udara.

Selain itu, penyakit paru-paru seperti emfisema, fibrosis kistik, dan tuberkulosis juga dapat meningkatkan risiko pneumotoraks. Faktor gaya hidup seperti merokok dan perubahan tekanan udara ekstrem juga berperan.

Gejala dan Diagnosis Pneumotoraks

Gejala pneumotoraks dapat bervariasi tergantung pada tingkat keparahan dan penyebabnya. Nyeri dada yang tiba-tiba dan tajam adalah gejala yang paling umum, seringkali disertai dengan sesak napas.

Beberapa orang mungkin juga mengalami batuk kering, kelelahan, dan peningkatan denyut jantung. Penting untuk segera mencari pertolongan medis jika mengalami gejala-gejala ini. Diagnosis pneumotoraks biasanya melibatkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Dokter akan mendengarkan suara napas pasien menggunakan stetoskop.

Jika dicurigai adanya pneumotoraks, rontgen dada akan dilakukan untuk mengonfirmasi diagnosis dan menentukan ukuran pneumotoraks. Dalam beberapa kasus, CT scan mungkin diperlukan untuk memberikan gambaran yang lebih detail.

Penting untuk membedakan pneumotoraks dari kondisi medis lain yang memiliki gejala serupa, seperti serangan jantung atau emboli paru. Diagnosis yang akurat sangat penting untuk memastikan penanganan yang tepat. Berikut adalah beberapa metode diagnosis pneumotoraks:

  1. Pemeriksaan fisik
  2. Rontgen dada
  3. CT scan

Pengobatan dan Pencegahan Pneumotoraks

Pengobatan pneumotoraks bertujuan untuk mengeluarkan udara dari rongga pleura dan memungkinkan paru-paru untuk mengembang kembali. Pilihan pengobatan tergantung pada ukuran pneumotoraks, gejala yang dialami, dan kondisi kesehatan pasien secara keseluruhan.

Pneumotoraks kecil mungkin tidak memerlukan pengobatan khusus dan dapat sembuh dengan sendirinya. Namun, pasien akan dipantau secara ketat. Pneumotoraks yang lebih besar atau menyebabkan gejala yang signifikan biasanya memerlukan tindakan medis.

Salah satu metode yang umum digunakan adalah aspirasi jarum, di mana jarum dimasukkan ke dalam rongga pleura untuk mengeluarkan udara. Dalam beberapa kasus, selang dada (chest tube) mungkin diperlukan untuk mengalirkan udara secara terus-menerus selama beberapa hari. Prosedur pleurodesis dapat dilakukan untuk mencegah kekambuhan.

Pencegahan pneumotoraks meliputi menghindari faktor risiko yang diketahui, seperti merokok dan paparan polusi udara. Individu dengan penyakit paru-paru kronis harus mengikuti rencana perawatan yang direkomendasikan oleh dokter mereka.

Penting juga untuk berhati-hati saat melakukan aktivitas yang dapat menyebabkan cedera dada. Meskipun tidak selalu dapat dicegah, langkah-langkah ini dapat membantu mengurangi risiko terjadinya pneumotoraks. (**)